Bantar Gebang, Bekasi (6 Februari 2026) — Di sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai tempat berakhirnya perjalanan sampah, sebuah langkah kecil untuk masa depan justru dimulai. Di Bantargebang, tempat gunungan sampah berdiri menjadi saksi tantangan lingkungan, GIS Peduli memilih menyalakan harapan melalui peluncuran Program Green School perdana di MI Negeri Cisalak Sumur Batu.
Program ini lahir dari keyakinan sederhana bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang ditanamkan sejak usia dini. Di tengah realitas bahwa Bantargebang menampung ribuan ton sampah setiap hari, sekolah menjadi ruang paling strategis untuk menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan bukan sekadar tempat tinggal, tetapi amanah yang harus dijaga.
Green School hadir bukan hanya sebagai program edukasi, melainkan sebagai gerakan membangun cara pandang baru bagi generasi muda terhadap lingkungan. Melalui penyediaan fasilitas tempat sampah terpilah, edukasi pengelolaan sampah, hingga pengenalan konsep bank sampah, siswa diajak memahami bahwa setiap sampah memiliki cerita, dampak, dan bahkan potensi nilai manfaat jika dikelola dengan bijak.
Kepala MI Negeri Cisalak Sumur Batu, Dedi Mulyadi, menilai kehadiran program ini menjadi momentum penting bagi sekolah dalam membangun karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran GIS Peduli. Program ini bukan hanya mendukung kegiatan sekolah, tetapi juga menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam memahami tanggung jawab mereka terhadap lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai peristiwa bencana yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukanlah persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin menanamkan kepada anak didik sejak usia dini untuk mencintai lingkungan. Kesadaran ini penting karena banyak bencana terjadi akibat lingkungan yang tidak terjaga,” tambahnya.
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari Amelia Salih, perwakilan Emil Salim Institute, yang menegaskan bahwa pendidikan lingkungan harus dimulai dari pembentukan karakter anak sejak dini.
“Anak-anak adalah generasi yang akan mewarisi bumi. Ketika mereka belajar mencintai lingkungan sejak sekarang, sesungguhnya mereka sedang menjaga masa depan,” ujarnya.
“Bumi hanya satu dan tidak tergantikan. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” lanjutnya.
Melalui Green School, siswa tidak hanya belajar memahami lingkungan melalui buku pelajaran, tetapi juga melalui pengalaman langsung. Mereka diajak memilah sampah, memahami proses daur ulang, serta melihat bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
GIS Peduli meyakini bahwa Bantargebang bukan hanya tentang tumpukan sampah, tetapi juga tentang peluang lahirnya generasi yang lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Program Green School diharapkan menjadi langkah awal dari gerakan yang lebih luas, yang menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama.
Tentang GIS Peduli
GIS Peduli merupakan lembaga sosial yang bergerak dalam penghimpunan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, sosial kemanusiaan, serta lingkungan. Melalui berbagai program berkelanjutan, GIS Peduli berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kontak Media
📞 0812 8222 2826
📷 Instagram: @gispeduli